Kategori

HEADLINE NEWS

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Sekolah Adat Dayak Kebahan Resmi Diluncurkan, Perkuat Pelestarian Budaya di Desa Merah Arai


Www.Warta86.com,-Merah Arai, Sintang – Masyarakat Adat Telaga Padong Buket Dayak Kebahan, Desa Merah Arai, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, resmi meluncurkan Sekolah Adat Dayak Kebahan dalam rangkaian Pegowai Tutop Tahun Peuma yang mengusung tema "Mewujudkan Warisan Dayak Kebahan untuk Indonesia Berbudaya." Peluncuran sekolah adat tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya Dayak Kebahan di tengah arus modernisasi.


Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan tamu melalui prosesi adat di Pagar Ompong, dilanjutkan dengan arak-arakan menuju Balai Adat. Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti Sekolah Adat sebagai simbol dimulainya proses pembelajaran adat bagi masyarakat Dayak Kebahan.


Usai peluncuran, masyarakat melaksanakan ritual Tutop Tahun Peuma dan pembukaan tahun adat yang baru. Seluruh masyarakat berjalan mengelilingi kampung sambil membawa gong serta berbagai perlengkapan pertanian sebagai simbol membuang segala kesialan dan menolak bala, sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan untuk memasuki tahun berladang yang baru.


Setelah kembali ke Balai Adat, masyarakat mengikuti prosesi nyengkolan batu sebelum menikmati makan siang bersama dalam tradisi berontang panjang. Berbagai hidangan tradisional Dayak Kebahan, seperti Kelopok dan Tekala, disajikan menggunakan konsep beutong, yaitu daging yang ditusuk menggunakan rotan sebagai lambang keadilan, kebersamaan, dan persaudaraan dalam kehidupan masyarakat adat.


Peluncuran Sekolah Adat dihadiri oleh Juliadi, S.S., M.Sc, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat, Herkolanus Roni, S.H., M.Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang beserta rombongan, Camat Kayan Hulu, Kepala Desa Merah Arai Martinus, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta tamu undangan dari berbagai daerah.


Ketua Sekolah Adat Dayak Kebahan, M. Darmansyah, S.Pd, mengatakan bahwa sekolah adat dibentuk sebagai wadah untuk menghidupkan kembali berbagai warisan budaya Dayak Kebahan yang mulai tergerus perkembangan zaman.


"Sekolah adat ini bertujuan mengangkat kembali berbagai tradisi Dayak Kebahan yang mulai hilang di tengah masyarakat, seperti seni tari, anyaman, kerajinan tangan, pengetahuan pengobatan tradisional, serta berbagai kearifan lokal lainnya. Semua itu memiliki nilai budaya, ekonomi, dan kesehatan yang perlu diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.


Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat, Juliadi, S.S., M.Sc, memberikan apresiasi atas lahirnya Sekolah Adat Dayak Kebahan. Menurutnya, komunitas Dayak Kebahan masih memiliki kekayaan budaya yang autentik dan belum banyak terpengaruh budaya luar sehingga memiliki nilai penting sebagai warisan budaya Indonesia.


Ia berharap Sekolah Adat Dayak Kebahan dapat menjadi model pelestarian budaya berbasis masyarakat yang mampu mengangkat kekayaan budaya Dayak Kebahan ke tingkat yang lebih luas sekaligus menjadi percontohan bagi komunitas adat lainnya di Kalimantan Barat.


Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Herkolanus Roni, S.H., M.Si, mendorong agar materi pembelajaran di Sekolah Adat dapat disinergikan dengan pendidikan formal melalui muatan lokal di sekolah-sekolah. Menurutnya, langkah tersebut akan memperkuat pendidikan karakter sekaligus memperkenalkan sejarah, bahasa, adat istiadat, seni budaya, serta pengetahuan tradisional Dayak Kebahan kepada generasi muda sejak dini.


Kepala Desa Merah Arai, Martinus, menyatakan Pemerintah Desa memberikan dukungan penuh terhadap keberadaan Sekolah Adat sebagai pusat pelestarian budaya dan pendidikan masyarakat. Ia berharap sekolah adat mampu menjadi ruang belajar lintas generasi sehingga nilai-nilai budaya tetap hidup dan berkembang.


Tokoh muda Dayak sekaligus salah satu penggagas Sekolah Adat Dayak Kebahan, Noven Honarius, mengatakan bahwa sudah saatnya generasi muda Dayak, khususnya Dayak Kebahan, memiliki wadah untuk menggali, mempelajari, dan mewariskan kebudayaan leluhur secara berkelanjutan.


Menurutnya, sekolah adat tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar mengenai adat istiadat, sejarah, bahasa, seni, dan kearifan lokal, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda.


"Melalui Sekolah Adat, generasi muda Dayak Kebahan diharapkan memiliki arah hidup yang jelas serta tidak mudah terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan perilaku seperti budaya hura-hura, penyalahgunaan minuman keras, narkoba, maupun berbagai tindakan kriminal lainnya. Sekolah adat menjadi jembatan utama untuk menanamkan nilai-nilai budaya, menjaga norma-norma yang hidup di tengah masyarakat, serta membentuk generasi Dayak yang berkarakter, berbudaya, dan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya," ujar Noven.


Peluncuran Sekolah Adat Dayak Kebahan merupakan hasil kolaborasi masyarakat adat bersama berbagai pihak. Gagasan pendirian sekolah adat dipelopori oleh M. Darmansyah, Martinus, Khairil, dan Noven Honarius, dengan dukungan penuh seluruh masyarakat Adat Telaga Padong Buket Dayak Kebahan.


Melalui Sekolah Adat Dayak Kebahan, masyarakat berharap nilai-nilai adat, bahasa, sejarah, seni, pengetahuan tradisional, dan kearifan lokal tetap terpelihara serta mampu diwariskan kepada generasi mendatang. Kehadiran sekolah adat juga diharapkan menjadi kontribusi nyata masyarakat adat dalam memperkuat pembangunan kebudayaan nasional serta menjaga identitas budaya Dayak Kebahan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Red

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *