Kategori

HEADLINE NEWS

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Enam Terdakwa Perkara Tambang Di tuntut 6-12 Tahun Penjara ! Kuasa Hukum Siap Ajukan Pledoi

By On November 03, 2026


Www.Warta86.com,-PALANGKA RAYA, KALIMANTAN TENGAH – Persidangan perkara tindak pidana korupsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Palangka Raya memasuki babak yang menyita perhatian publik. Enam terdakwa menghadapi tuntutan pidana penjara dengan masa hukuman bervariasi, mulai dari 6 tahun hingga 12 tahun penjara.


Besarnya tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjadi perhatian serius. Di tengah perkembangan tersebut, para kuasa hukum menyatakan akan melakukan perlawanan hukum melalui penyampaian nota pembelaan atau pledoi secara tertulis.


Salah satu penasihat hukum yang menjadi sorotan adalah Suriansyah Halim, selaku kuasa hukum Hendi Andy Wahyudi. Ia bersama tim penasihat hukum lainnya akan mempersiapkan argumentasi pembelaan untuk disampaikan kepada majelis hakim sesuai tahapan persidangan.


Perkara ini menjadi ujian penting bagi penegakan hukum di Kalimantan Tengah. Publik kini menunggu bagaimana seluruh fakta persidangan, tuntutan JPU, dan pembelaan para terdakwa dipertimbangkan oleh majelis hakim sebelum menjatuhkan putusan.


ENAM TERDAKWA, TUNTUTAN HUKUMAN BERBEDA


Berdasarkan informasi tuntutan yang dihimpun dari perkembangan persidangan di Pengadilan Tipikor Palangka Raya, enam terdakwa menghadapi tuntutan sebagai berikut:


1. Vent, dituntut pidana penjara selama 9 tahun.

2. Indra Himawijaya, dituntut pidana penjara selama 6 tahun.

3. Erna Tri Sosilowati, dituntut pidana penjara selama 12 tahun.

4. Herbowo Siswanto, dituntut pidana penjara selama 11 tahun, dikurangi masa tahanan.

5. Franssisco Kosida, dituntut pidana penjara selama 11 tahun, dikurangi masa tahanan.

6. Hendi Andy Wahyudi, dituntut pidana penjara selama 11 tahun, dikurangi masa tahanan.


Besarnya tuntutan tersebut memperlihatkan bahwa perkara ini memasuki tahapan hukum yang serius. Namun, tuntutan JPU bukan merupakan putusan akhir. Para terdakwa masih memiliki hak untuk mengajukan pembelaan, sedangkan majelis hakim nantinya akan menentukan putusan berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan hukum.


SURIANSYAH HALIM: KAMI AKAN GUNAKAN HAK PEMBELAAN MELALUI PLEDOI


Suriansyah Halim, selaku kuasa hukum Hendi Andy Wahyudi, menegaskan bahwa pihaknya akan menggunakan hak pembelaan melalui penyampaian nota pembelaan atau pledoi secara tertulis.


"Kami menghormati proses persidangan dan juga menghormati tuntutan yang telah disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum. Namun, kami sebagai penasihat hukum tentu memiliki kewajiban untuk memperjuangkan hak-hak hukum klien kami. Oleh karena itu, kami akan menyampaikan pembelaan secara tertulis melalui pledoi. Di dalamnya akan kami uraikan argumentasi hukum, fakta-fakta yang terungkap selama persidangan, serta hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dan pertimbangan majelis hakim."


Menurutnya, tuntutan JPU bukanlah akhir dari proses pencarian keadilan. Masih terdapat tahapan pembelaan yang harus diberikan ruang secara proporsional agar seluruh argumentasi hukum dapat dipertimbangkan.


TUNTUTAN 11 TAHUN TERHADAP HENDI ANDY WAHYUDI MENJADI PERHATIAN


Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah tuntutan terhadap Hendi Andy Wahyudi, yakni 11 tahun penjara dikurangi masa tahanan.


Bagi tim penasihat hukum, tahapan pledoi menjadi kesempatan penting untuk menyampaikan pandangan hukum terhadap tuntutan tersebut.


"Kami ingin majelis hakim melihat perkara ini secara utuh. Jangan hanya melihat dari sisi tuntutan yang diajukan oleh JPU, tetapi juga memberikan ruang yang sama terhadap pembelaan terdakwa. Semua fakta yang muncul selama proses persidangan harus menjadi bahan pertimbangan. Kami berharap majelis hakim menjalankan tugasnya secara profesional, independen, dan objektif."


Ia juga menegaskan bahwa pembelaan bukanlah upaya menghambat proses peradilan, melainkan bagian dari mekanisme hukum yang disediakan untuk menjamin hak setiap terdakwa.


PLEDOI BUKAN SEKADAR FORMALITAS, TETAPI BAGIAN DARI PERJUANGAN KEADILAN


Dalam proses peradilan pidana, pledoi memiliki kedudukan penting karena menjadi kesempatan bagi terdakwa maupun penasihat hukumnya untuk memberikan tanggapan atas tuntutan penuntut umum.


Melalui pembelaan tertulis, tim penasihat hukum dapat menyampaikan analisis terhadap unsur-unsur dakwaan, alat bukti, keterangan saksi, fakta persidangan, serta penerapan ketentuan hukum yang dianggap relevan.


"Kami akan mempersiapkan pledoi dengan sungguh-sungguh. Pembelaan ini bukan sekadar formalitas untuk memenuhi tahapan persidangan. Kami ingin setiap argumentasi disampaikan secara terukur, berdasarkan fakta dan ketentuan hukum. Kami berharap majelis hakim memberikan perhatian terhadap seluruh materi pembelaan yang nantinya kami sampaikan."


KUASA HUKUM MENGAJAK MASYARAKAT MENGHORMATI PROSES HUKUM


Perkara yang mendapatkan perhatian publik tentu tidak terlepas dari berbagai pandangan dan penilaian masyarakat. Namun, proses peradilan harus tetap dihormati hingga putusan dibacakan.


"Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan proses peradilan yang adil. Karena itu, kami berharap masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ada mekanisme hukum yang harus dilalui, mulai dari tuntutan, pembelaan, tanggapan para pihak apabila ada, hingga putusan majelis hakim. Biarkan seluruh tahapan tersebut berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku."


PERTEMUAN MENTERI ESDM DAN GUBERNUR KALTENG JUGA MENJADI SOROTAN


Di tengah perhatian terhadap perkara pertambangan tersebut, muncul pula informasi mengenai pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Hotel Borobudur.


Pertemuan yang dikabarkan berlangsung pada siang hari itu diharapkan membawa dampak positif terhadap iklim usaha dan investasi sektor pertambangan di Kalimantan Tengah.


Harapan masyarakat, komunikasi antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dapat menghasilkan kebijakan yang mendorong kemajuan sektor pertambangan, memberikan kepastian bagi pelaku usaha, meningkatkan pendapatan daerah, membuka lapangan pekerjaan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.


Kalimantan Tengah memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Namun, potensi tersebut harus dikelola dengan tata kelola yang baik, memperhatikan kepentingan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan kepastian hukum.


Kemajuan dunia usaha dan penegakan hukum tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus berjalan beriringan agar pembangunan daerah benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat.


PUBLIK MENUNGGU PLEDOI DAN PUTUSAN MAJELIS HAKIM


Kini perhatian tertuju pada agenda persidangan berikutnya, terutama penyampaian nota pembelaan dari para kuasa hukum enam terdakwa.


Masyarakat menantikan bagaimana tim penasihat hukum akan menguraikan argumentasi pembelaannya, termasuk bagaimana Suriansyah Halim memperjuangkan kepentingan hukum Hendi Andy Wahyudi.


Pada akhirnya, majelis hakim memiliki kewenangan untuk menilai seluruh fakta persidangan, mempertimbangkan tuntutan JPU, serta mendengarkan pembelaan para terdakwa sebelum menjatuhkan putusan.


Prinsip praduga tak bersalah, independensi peradilan, dan kepastian hukum harus tetap dijunjung tinggi.


IRAWATIE – LAPORAN KHUSUS DARI PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI PALANGKA RAYA, KALIMANTAN TENGAH.

Publisher Red W86 

Kapolda Kalbar Pimpin Pengecekan Personel dan Sarpras Ditreskrimum, Tekankan Kinerja Nyata dan Profesionalisme

By On November 02, 2026


Www.Warta86.com,-Pontianak, Polda Kalbar – Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pol. Alberd Teddy Benhard Sianipar, S.I.K., M.H., memimpin pengecekan kesiapan personel dan sarana prasarana (Sarpras) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kalbar di Hanggar Polda Kalbar, Selasa (3/11).


Kegiatan tersebut dihadiri Wakapolda Kalbar, seluruh Pejabat Utama (PJU) Polda Kalbar, serta personel Ditreskrimum Polda Kalbar. Pengecekan ini bertujuan mengevaluasi kesiapan personel dan optimalisasi sarana pendukung dalam pelaksanaan tugas kepolisian.


Dalam arahannya, Kapolda Kalbar menekankan pentingnya peningkatan kinerja, khususnya dalam pengungkapan kasus yang menjadi perhatian masyarakat, seperti pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian kendaraan bermotor (curanmor), begal, tawuran, dan penganiayaan. 


Selain itu, Kapolda menekankan pentingnya komitmen, disiplin, dan penerapan prinsip Man, Money, Method dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas. Dukungan personel dan anggaran akan menjadi bahan evaluasi sesuai kebutuhan, dengan tetap mengutamakan hasil kinerja yang nyata.


Kapolda mengharapkan seluruh personel memiliki semangat kerja tinggi, disiplin, dan kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan tugas. Ia juga mendorong jajaran Ditreskrimum untuk terus meningkatkan produktivitas dan menunjukkan hasil nyata dalam pengungkapan kasus tanpa harus menunggu pelaksanaan operasi kepolisian.


Melalui kegiatan tersebut, Kapolda Kalbar berharap seluruh personel Ditreskrimum semakin profesional, responsif, dan optimal dalam memanfaatkan sarana prasarana guna meningkatkan pengungkapan tindak pidana serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Publisher Red W86 

Tindak Lanjut SE Kapolri, Kapolda Jabar Minta Bid Propam Tindak Anggota yang Pakai Vape

By On November 01, 2026


Www.Warta86.com,-BANDUNG - Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Hengki menginstruksikan Kabid Propam Polda Jabar Kombes Pol. Mochamad  Yoris Maulana Yusuf Marzuki untuk melakukan pengawasan ketat dan penegakan disiplin terhadap personel terkait larangan penggunaan rokok elektrik (vape).


Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran (SE) Kapolri Nomor: SE/1/X/2026 tanggal 30 Oktober 2026 serta arahan Divisi Propam Polri tentang Larangan Penggunaan Rokok Elektrik di Lingkungan Polri.


"Melalui Kabid Propam Polda Jabar, saya telah memerintahkan penegakan aturan secara tegas. Pengawasan dan pemeriksaan akan dilakukan secara berkala maupun insidental untuk memastikan tidak ada anggota yang melanggar," ujar Irjen 

Pol Hengki, Senin (2/11/2026).


Irjen Pol. Hengki menegaskan bahwa larangan ini tak hanya berlaku saat dinas di kantor, tetapi juga di luar lingkungan kerja Polri bagi seluruh Pegawai Negeri pada Polri (Anggota dan ASN).


"Instruksi dari Mabes Polri sudah sangat jelas. Larangan ini melekat pada personel, baik saat berada di lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja. Tidak ada alasan bagi anggota untuk tidak patuh," jelasnya.


Ia menambahkan, Kabid Propam Polda Jabar bersama jajaran Kasi Propam di tingkat Polres akan memproses setiap anggota yang terbukti melanggar sesuai dengan ketentuan disiplin dan kode etik yang berlaku.


"Jika ada personel yang nekat melanggar, Kabid Propam akan melakukan penindakan tegas sesuai aturan disiplin dan kode etik Polri. Kebijakan ini harus dilaksanakan dengan sungguh- sungguh dan konsisten di seluruh wilayah hukum Polda Jabar." pungkas Irjen Pol. Hengki.


Bandung, 02 November 2026


Dikeluarkan oleh Bid Humas Polda Jabar

Publisher Red W86 

Kapolda Jabar Larang Penggunaan Vape di Lingkungan Mapolda dan Polres

By On November 01, 2026


Www.Warta86.com,-BANDUNG - Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Hengki melarang keras penggunaan rokok elektrik atau vape di seluruh lingkungan markas kepolisian. Aturan ini berlaku ketat di tingkat Mapolda Jabar hingga seluruh jajaran Polres di Jawa Barat.


Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga ketertiban, kedisiplinan, serta menciptakan lingkungan kerja kepolisian yang sehat dan profesional.


"Saya tegaskan bahwa seluruh area Mapolda Jabar hingga Polres jajaran harus bersih dari penggunaan rokok elektrik atau vape. Aturan ini berlaku untuk seluruh personel Polri, ASN, hingga masyarakat yang berkunjung," kata Kapolda Jabar Irjen Pol Hengki,  Senin (2/11/2026).


Irjen Pol. Hengki menekankan bahwa personel kepolisian harus menjadi teladan bagi masyarakat dalam mematuhi aturan penegakan ketertiban di lingkungan markas komando (mako).


"Sebagai aparat penegak hukum, kita harus memberikan contoh yang baik. Markas kepolisian adalah tempat pelayanan publik, sehingga kenyamanan dan kedisiplinan harus dijaga sepenuhnya," tegasnya.


Tak hanya bagi anggota, pengetatan juga dilakukan terhadap tamu atau pengunjung yang mendatangi kantor polisi. Petugas di penjagaan markas diinstruksikan untuk menegur dan meminta pengunjung mematikan serta menyimpan perangkat vape mereka jika kedapatan menggunakannya di area mako.


"Petugas jaga di pintu masuk akan mengawasi ketat. Jika ada pengunjung atau tamu yang menggunakan vape, akan langsung ditegur dan diminta mematikan serta menyimpannya," pungkas Kapolda Jabar.


Bandung, 02 November 2026


Dikeluarkan oleh Bid Humas Polda Jabar

Publisher Red W86 

Sengkarut BBM Subsidi Program MBG Di Madina. HMI Desak DPRD Gelar RDP, Kapolres Diminta Bongkar Sisi Gelap SPPG Bukit Malintang

By On November 01, 2026


Www.Warta86.com,-PANYABUNGAN — Dugaan penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite oleh armada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bukit Malintang kini menggelinding menjadi bola panas politik dan hukum di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). 


Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Madina secara resmi melayangkan desakan keras agar Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Madina segera menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) lintas sektoral, sementara Kepolisian Resor (Polres) Madina didesak mengusut tuntas pusaran penyimpangan anggaran negara tersebut.


Desakan ini mencuat pasca-resminya laporan hukum berbentuk Pengaduan Masyarakat (Dumas) yang diajukan ke Mapolres Madina terkait dugaan penyalahgunaan fasilitas negara yang dibiayai oleh APBN. Kasus ini bermula ketika satu unit minibus berlogo resmi Badan Gizi Nasional (BGN) dengan nomor polisi BK 8767 CJ tertangkap basah mengantre dan mengisi Pertalite di SPBU Gunung Tua – Mompang Julu pada Kamis, 22 

Oktober 2026 lalu.


Ketua HMI Cabang Madina, Tantowi Yahya, menegaskan bahwa polemik ini tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja. Menurutnya, tindakan menggunakan BBM subsidi bagi program nasional yang operasionalnya telah didanai penuh oleh negara merupakan bentuk pengkhianatan terhadap hak masyarakat miskin.


"DPRD selaku lembaga representasi dan artikulasi kepentingan rakyat harus segera memanggil Kepala SPPG Bukit Malintang beserta oknum sopir tersebut untuk dimintai keterangan. Pertemuan ini wajib mengundang Satgas MBG, Korwil BGN, serta dinas terkait untuk menuntaskan polemik ini secara transparan," tegas Tantowi.


Selain polemik SPPG Bukit Malintang, dia juga menyorot sengkarut tata kelola dapur MBG di SPPG Simanggir dalam kasus kebakaran yang mengakilbatkan 4 korban luka bakar. Kemudian temuan gas LPG 3 Kg, cuci ompreng dilapangan terbuka di SPPG Sibaruang harus juga diusut untuk menjaga integritas program prioritas nasional. "Tata kelola SPPG harus lebih baik untuk menjamin keberlangsungan program strategis Presiden RI. Buruknya managemen serta rusaknya tata kelola SPPG harus segera diusut dan dijatuhi sanksi tegas bila terbukti ada pelanggaran" ungkap Tantowi.


Tidak hanya membidik lembaga legislatif, HMI Madina juga menaruh harapan besar pada ketegasan aparat penegak hukum. Tantowi mendesak Kapolres Madina untuk bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat dan tidak sekadar memeriksa pelanggaran di lapangan.


"Kapolres Madina harus secara tegas membongkar sisi gelap tata kelola MBG di SPPG Bukit Malintang. Selain kasus penyalahgunaan BBM, kami melihat ada indikasi kuat terjadinya pusaran korupsi, manipulasi anggaran, maladministrasi, hingga pembiaran yang terstruktur," imbuh Tantowi tajam.


Analisis Tantowi, tindakan ini bukan hanya pelanggaran etika yang dikenai sanksi administratif. Tapi diindikasikan pelanggaran regulasi berlapis secara kasat mata. Dia menyebut dugaan pelanggaran Pasal 55 UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Perpres No. 191 Tahun 2014, serta Juknis BGN No. 401.1 Tahun 2025 yang mewajibkan BBM Non-Subsidi dengan ancaman pembekuan operasional. Kepala Dinas Perdagangan Madina juga telah menegaskan bahwa mobil distribusi dilarang keras menggunakan BBM bersubsidi, mematahkan klaim sebelumnya yang disampaikan Kepala SPPG Bukit Malintang Marwan Efendi.


Publik kini menuntut ketegasan Kapolres mengusut mafia energi serta desakan RDP di DPRD Madina guna mengawal transparansi anggaran serta memperbaiki tata kelola SPPG.

(Magrifatulloh).

Dugaan Pengondisian Petani Mencuat,  Aktivis Madina Desak Pengusutan Jual Beli Pupuk Subsidi di Atas HET UD Rizky

By On November 01, 2026


Www.Warta86.com,-Panyabungan 

Praktik penjualan pupuk bersubsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Kios UD Rizky Roburan Lombang, Kecamatan Panyabungan Selatan, kian vulgar dan makin menghangat. Pasca mencuatnya temuan harga eceran Rp2.500 per kilogram yang mencekik petani, kini muncul video viral di media sosial berisi pengakuan sejumlah warga yang mengklaim tidak keberatan dengan tarif ilegal tersebut. 


Video tersebut memicu kecurigaan publik mengenai adanya dugaan upaya pengondisian sistematis untuk mengaburkan pelanggaran regulasi negara.


Menyikapi fenomena ini, sejumlah aktivis Madina bereaksi keras. Ketua Forum MP4 (Mahasiswa Pemuda Pemantau Pemerintahan dan Pelayanan Publik), Arief Azka Barubara kepada pers di Panyabungan (01/11) menyatakan kegeramannya. Dia menilai bahwa dalih kesepakatan ataupun video pembelaan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum formal. Aturan HET bersifat absolut demi melindungi hak-hak ekonomi petani kecil.


"Kita melihat hal ini terindikasi siasat pengondisian petani di Kasus Pupuk Subsidi UD Rizky, Munculnya video viral berisi pengakuan sejumlah warga Desa Roburan Lombang yang menyatakan 'ikhlas' membeli pupuk subsidi seharga Rp2.500/kg dari UD Rizky diduga kuat merupakan skenario pengondisian demi lolos dari jerat hukum. Langkah instan ini dinilai sebagai upaya kepanikan untuk meredam gejolak resistensi publik' tegas Arief Azka.


Dia melihat, video pengakuan sejumlah petani ini hanyalah modus dan tameng pembenaran atas keuntungan ilegal yang diraup sepihak. Padahal berdasarkan regulasi, seluruh margin keuntungan pengecer dan komponen biaya distribusi telah dihitung secara matang dalam struktur subsidi negara bersama PT Pupuk Indonesia serta tidak boleh melewati HET (Harga Eceran Tertinggi).


Dia menegaskan bahwa tidak ada istilah 'kesepakatan' dalam penyaluran barang dalam pengawasan negara. 


"HET Pupuk Urea itu Rp1.800/kg dan NPK Phonska Rp1.840/kg. Menjualnya Rp2.500/kg dengan alasan apa pun, termasuk jasa antar, jelas menabrak aturan kaku Kementerian Pertanian dan Permendag Nomor 4 Tahun 2023. Membuat video testimoni petani tidak akan menghapus tindak pidana pelanggaran hukum. Malah makin membenarkan adanya praktek ilegal yang terstruktur oleh UD Rizky" tegasnya.


Tindakan sepihak UD Rizky ini, menurut Arief Azka diduga kuat menabrak  Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman 5 tahun penjara atau denda Rp2 Miliar, serta UU Darurat Nomor 7 Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi" sebutnya.


Pihaknya mendesak Plt Kadis Pertanian Kab Madina Muhammad Syail, PT. Pupuk Indonesia KP3 (Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida) Madina segera turun ke lapangan dan tidak menutup mata atas dugaan rekayasa pembelaan yang viral di medsos serta mendesak transparansi penuh demi membongkar berapa banyak keuntungan ilegal yang telah disedot oleh kios UD Rizky dari keringat para petani kecil. 


'Hal ini merupakan praktek illegal yang mencederai rasa keadilan petani miskin  yang terpaksa membayar mahal akibat ulah spekulan kios pengecer resmi" sebut Arief Azka.


Dia menyebut, otoritas terkait seperti Plt Kadis Pertanian Kab Madina harus bertindak tegas dan mengusut tuntas dugaan praktek illegal ini. Jika terbukti ada pelanggaran hukum, maka wajib ditindaklanjuti dengan merekomendasikan blacklist usaha, sanksi pencabutan izin usaha dan ancaman pidana ekonomi


Arief Azka yang mantan aktivis HMI Sumut ini menyebut, tindakan pemilik kios dengan berdalih menggunakan suara warga yang diduga telah dikondisikan, tidak bisa dibenarkan. Pihaknya berencana siap menyerahkan berkas laporan resmi ke Polres Mandailing Natal dan KP3 untuk diproses secara hukum pidana.


'Tindakan UD Rizky yang diduga kuat menjual pupuk diatas HET, akan kita bawa ke ranah hukum pidana formal dan mendesak pencabutan Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB) kios pengecer resmi tersebut" tutupnya.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Plt Kadis Pertanian Madina, PT Pupuk Indonesia dan otoritas hukum terkait. Pihak media masih terus melakukan komunikasi dan konfirmasi kepada pihak terkait untuk pemenuhan azas keberimbangan informasi. Pihak redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak pihak yang disebutkan dalam pemberitaan.

(Magrifatulloh).

Bukan Sekadar Drum Kosong! Dugaan Bongkar Muat di Sekubang Disorot, Polres Sintang Didesak Turun Tangan

By On Oktober 31, 2026


Www.Warta86.com,-Sintang | KALBAR, 31 Oktober 2026.


Dugaan adanya aktivitas bongkar muat yang sebelumnya dikaitkan dengan distribusi Solar Bersubsidi ke kawasan yang diduga menjadi lokasi aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Sekubang, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, kini kembali menjadi sorotan.


Persoalan tersebut sebelumnya telah diberitakan dan kemudian muncul pemberitaan klarifikasi dari media lain yang menyebut bahwa drum yang dipindahkan dalam aktivitas tersebut dalam kondisi kosong dan bukan berisi BBM.


Berita Klarifikasi tersebut tentu patut dihormati sebagai bagian dari hak jawab. Namun, muncul pertanyaan lain yang justru dinilai belum terjawab secara terang.


Apa bukti terbaru di lapangan yang menunjukkan bahwa drum tersebut benar-benar kosong sebagaimana diklaim dalam pemberitaan klarifikasi? Pertanyaan inilah yang kini menjadi perhatian.


Seorang narasumber lain yang mengetahui persoalan tersebut namun meminta identitasnya tidak dipublikasikan menilai munculnya pemberitaan klarifikasi tersebut masih menyisakan kejanggalan.


Menurutnya, "pemberitaan klarifikasi semestinya tidak hanya menyampaikan bantahan atau keterangan bahwa drum dalam keadaan kosong, tetapi juga idealnya disertai bukti atau hasil verifikasi terbaru di lapangan yang dapat memperkuat sanggahan tersebut," ujarnya.


Dia melanjutkan, “Kalau memang benar drum itu kosong dan bukan BBM, tentu harus ada bukti yang dapat memperkuat klarifikasi tersebut. Jangan hanya sebatas keterangan. Publik berhak mengetahui fakta sebenarnya di lapangan,” ungkap narasumber tersebut.



Ia menilai, tanpa adanya bukti pendukung yang dapat diverifikasi, klarifikasi tersebut justru berpotensi menimbulkan pertanyaan baru.


Apakah benar sudah dilakukan pemeriksaan terhadap isi drum? Siapa yang memeriksa? Kapan pemeriksaan dilakukan? Apakah ada Dokumentasi atau hasil pemeriksaan yang dapat memastikan drum tersebut memang kosong?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurutnya, masih membutuhkan jawaban.

Namun demikian, pernyataan tersebut tetap merupakan keterangan sumber dan perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak Berwenang.


Yang lebih menjadi sorotan adalah hingga kini, berdasarkan informasi yang diterima, Aparat Penegak Hukum (APH), khususnya Polsek Sepauk dan Polres Sintang, dinilai belum mengusut secara tuntas dugaan tersebut.


Padahal, ketika sebuah kendaraan dan aktivitas bongkar muat telah menjadi perhatian publik serta muncul dugaan keterkaitan dengan distribusi BBM ke kawasan PETI, seharusnya aparat melakukan verifikasi dan penyelidikan secara Independen.


Bukan semata-mata mengandalkan pemberitaan, bantahan, ataupun klarifikasi dari pihak tertentu.


Naraumber tersebut menegaskan, Aparat memiliki kewenangan untuk memastikan fakta sebenarnya.


“Kalau memang tidak ada BBM, silakan aparat periksa dan pastikan. Kalau memang ada dugaan penyalahgunaan, jangan dibiarkan. Polsek Sepauk dan Polres Sintang harus turun dan menyelidiki, bukan hanya menunggu pemberitaan atau klarifikasi dari pihak lain,” tegasnya.


Menurutnya, persoalan tersebut tidak boleh berhenti hanya karena telah muncul pemberitaan yang menyatakan drum dalam keadaan kosong.


Sebab yang harus dicari bukan siapa yang paling cepat memberikan klarifikasi, tetapi apa fakta sebenarnya.


Dalam konteks Jurnalistik, setiap pihak tentu memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab terhadap suatu pemberitaan.


Namun, klarifikasi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan proses verifikasi apabila masih terdapat dugaan pelanggaran yang belum terjawab.


Apalagi dugaan yang disorot menyangkut BBM Bersubsidi dan aktivitas PETI, dua persoalan yang memiliki dampak langsung terhadap kepentingan Publik, lingkungan serta penggunaan Sumber Daya Negara.


Jika benar tidak ada BBM dalam drum tersebut, maka hasil pemeriksaan Aparat dapat menjadi jawaban paling kuat.


Begitu pula apabila kendaraan tersebut tidak memiliki hubungan dengan distribusi BBM ke PETI, maka penyelidikan dapat menghapus dugaan yang berkembang di Masyarakat.


Sebaliknya, apabila ditemukan bukti berbeda, aparat harus berani menindaklanjutinya sesuai ketentuan Hukum.


Dugaan penyalahgunaan BBM tidak dapat dilihat hanya dari satu kendaraan atau satu aktivitas bongkar muat.


Jika memang ditemukan adanya BBM yang disalurkan ke kawasan PETI, maka penyelidikan harus diarahkan pada seluruh rantai pasok.


• Dari mana BBM diperoleh?


• Dari SPBU mana?


• Siapa yang membeli?


• Siapa yang mengangkut?


• Siapa yang menampung?


• Siapa penerima akhirnya?


• Siapa yang menikmati keuntungan dari distribusi tersebut?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan apakah sebuah drum kosong atau berisi.


Karena jika memang terdapat jaringan distribusi BBM Bersubsidi menuju kawasan PETI, maka yang harus dibongkar bukan hanya kendaraan di lapangan. Rantai pasoknya harus dibuka dari hulu sampai hilir.


Aktivitas PETI membutuhkan berbagai kebutuhan operasional, termasuk bahan bakar untuk mesin dan peralatan.


Karena itu, apabila aktivitas PETI masih ditemukan di kawasan Sekubang, maka aspek logistik juga layak menjadi bagian dari pengawasan Aparat.


Penindakan terhadap PETI tidak akan efektif apabila hanya menyasar pekerja atau lokasi tambang sementara jalur pasokan kebutuhan operasionalnya tidak pernah disentuh.


Mesin bisa berhenti jika sumber logistiknya diputus. Sebaliknya, selama jalur logistik tetap berjalan, aktivitas Ilegal berpotensi terus mendapatkan “napas” untuk beroperasi.


Masyarakat tidak membutuhkan perang antara pemberitaan dan bantahan. Masyarakat membutuhkan kepastian fakta.

Jika drum memang kosong, buktikan dan Jika tidak ada BBM, periksa dan jelaskan, jika tidak ada hubungan dengan PETI, telusuri dan ungkap.


Publik menunggu apakah dugaan tersebut benar-benar akan ditelusuri sampai tuntas atau justru berhenti pada pemberitaan klarifikasi.


Sebab dalam persoalan yang menyangkut BBM Bersubsidi, PETI, dan kepentingan Masyarakat, klarifikasi bukanlah akhir dari pencarian fakta. Klarifikasi justru harus menjadi pintu masuk untuk melakukan verifikasi yang lebih serius.


Jika bersih, buktikan. Jika salah, tindak. Jika ada jaringan, bongkar sampai ke akar.


 // TIMRED ]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *